Selasa, 27 September 2011

REVOLUTION


A complaint words
Explode in my mouth
Hanging on my lips

                It’s time to change
                It’s time to make things better
                No more reason
                We tired with your speech

No more die, no more blood
It’s time to get a new life
No more tears, no more suffers
It’s time to realize
We need a revolution

Senin, 26 September 2011

Indah Di Atas Sini



Dari Sini…
Terlihat bintang-bintang bersinar dengan bangganya,
Pohon-pohon terlihat lebih kecil dari ukuran sebenarnya.
Orang-orang berbincang tentang suatu hal yang tak pernah kita tahu hasilnya.
Tentang esok yang mungkin tak akan terlihat jauh lebih baik dari hari ini.

Para penggerak roda berjalan beriringan untuk terus membangun negara, dengan memikirkan segala hal yang bahkan tidak pernah dipikirkan oleh para pemegang kekuasaan.

Para petugas berseragam lengkap dengan aksesorisnya mengatur para pembuat cerita mengikuti alur yang hingga kini belum terlihat akan menjadi seperti apa, yang selalu menggoreskan tinta di dalam buku yang sudah tertulis sejak jaman dimana biasa kita sebut perjuangan, untuk mencapai suatu katadimana hingga kini belum diketahui apa maksud kata itu.

Sementara para pejuang aspirasi dengan berpakaian rapih terus berusaha memperlebar kesenjangan dari para peretas mimpi agar lebih tampan.

Dimana bagianku?
Aku adalah bagian dari para peretas mimpi yang tak pernah bisa meyakini.
Apakah esok tetap bisa bermimpi?
Apakah esok ku tetap memimpikan hal yang sama?

Ohyaaa…
Planet yang kita pijak sudah cukup tua untuk menghirup asap-asap kotor tanpa filter.
Ketika udara semakin panas, kita kerap melihat tempat berteduh yang terus berkompetisi untuk mencapai langit, dengan mengenakan pakaian berkilau yang semakin menipiskan lapisan udara yang hingga kini aku tak pernah tahu apakah benar berlapis-lapis?

Energi yang diharapkan bisa berkonversi pun tak ubahnya ombak di siang hari, terkadang besar, dan penyebarannya tak kunjung memberikan suatu jalan keluar.

Indahnya di atas sini…
Begitu sejuk dan damai,
Jauh dari kebisingan dan bisikan yang selalu menyusup telinga kita.

Indahnya di atas sini…
Ketika angin berhembus…
Ku harus terus menjaga keseimbangan dari segala terpaan baik dari atas, bawah, kiri, ataupun kanan.

Tapi ku tahu pasti…
Jika ku membiarkan diriku terhempas, Ku pasti akan menuju suatu tempat yang ku tak pernah yakin apa namanya, yang pasti ada dua nama yang selalu diidamkan orang, tapi yang pasti ada satu nama…..

Minggu, 25 September 2011

GUMAM


Ku melihat malam kini semakin berubah, dia tak pernah memberikan nada – nada indah yang kurindukan,
Kini ku hanya bergelut dengan kebisingan frekuensi tinggi, tawa mahluk – mahluk malam seakan hanya ada dalam kenangan yang semakin suram.

Mengisi pikiranku dengan kerinduan tuk memadu kasih, bercumbu rindu, memuntahkan hasrat semakin menantang kegemerlapan yang mendistorsi mataku selama ini.

Tubuhku yang semakin berontak hanya membuat hasratku semakin tak terkontrol. Norma, hina, dengki, hingga kebencian seakan menjadi sebuah kebahagiaan rajutan waktu yang semakin tak beraturan.

Kehampaan ruang hati yang begitu besar mengecilkan pandangan kehidupan yang begitu megah, dan suara gesekan logam pun tak mampu mengkrucutkan sudut – sudut yang semakin lancip.

Gumam kehangatan, kecupan, dan kasih saying semakin nyaring dan puitis terdengar kini, merebahkan kepala dan menghela nafas sembari memasang tirai pertunjukan yang bertabur bunga.

MELAMUN


Malam ini ku tak melihat bintang memperlihatkan batang hidungnya, hanya rembulan yang tersipu malu dengan cahaya yang seolah enggan tuk berbagi bersamaku. Habis sudah air di gelas yang tampak kusam tapi belum ada sapaan hangat dari tempat ku memejamkan mata, kembali kulihat hamparan langit hitam kini bulatan putih tertutup selimut abu – abu yang melintas di hadapannya, ku biarkan mataku menari di hamparan langit ternyata kini ada satu teman kecil menyapa sang penerang malam, bintang fikirku? Tapi ketika ku tajamkan mataku ternyata ada sebuah mesin terbang yang melintas dengan titik – titik merah yang berkedip genit.

Lelah batang leherku menenggak sinar rembulan, kuputuskan untuk melangkahkan kakiku ke hamparan aspal yang panjang kini, ditemani oleh gedung – gedung kayu yang hampir punah ku nikmati lalu lalang desiran mesin yang terdengar jelas memecah keheningan, ku langgkahkan kaki menyusuri gedung – gedung kayu ini hingga ku bertemu dengan tanaman – tanaman beton dengan guratan –guratan warna – warni menghiasi batangnya.

Terdiam sejenak mengingat kepenatan ketika mentari membakar kita tanpa bisa berlindung di bawah tanaman beton yang penuh sesak ini. Berkecambuk pikiranku yang tak habis fikir dengan apa yang dilakukan oleh para orang terhormat berbaju coklat di kota ini yang membiarkan kaum kapitalis memporak – porandakan keindahan tempat kita berpijak ini.

Kotoran – kotoran penghasil pajak pun seolah aman tuk di konsumsi kaum papa yang kembali bisu karena pergulatan hidup yang semakin mencekik leher kehidupan keluarga, apa yang bisa kulakukan? Hanya bisa melihat balita – balita bertarung dengan nafas yang telah diisi racun untuk membuat pita suara mereka semakin menipis walau hanya untuk meminta haknya dari orang yang merawat dan melairkan dia, apa bapak – bapak yang terhormat pernah memikirkan ini? Kufikir tidak, mereka semakin sibuk membangun kerajaan dengan terus menggali harta karun yang bukan miliknya, atau sibuk mencari selir – selir baru untuk meringankan beban  mereka saat beranjak untuk menghabiskan isi dompet di depan patung – patung yang melambaikan tangan seolah ingin mengajak semua orang berpesta di balik kaca dan meja penyimpan uang yang semakin lihai untuk membuka mulut…

Kembali ku jejakan kaki menyusuri aspal menuju tempatku berteduh dan melepas lelah, gonggongan anjing, teriakan jangkrik semakin membuat emosiku memuncak memikirkan apa yang akan kau lakukan bapak – bapak yang terhormat, “terhormat?” fuih… malas ku mengucap kata terhormat untuk mereka yang bahkan sebagian dari orang – orang rakus itu tertidur kaku di balik tiang – tiang besi yang menjulang kokoh di ruangan yang menggigil dan sempit. Aku lebih bangga dengan para juru parkir perempatan yang mendedikasikan hidup mereka untuk orang lain tak peduli sentuhan air hujan atau gigitan sinar matahari menghujam ketangguhan tubuhnya. Kufikir mereka lebih mengerti arti sebuah perjuangan hidup.

Ah lelah rasanya tubuhku mengelilingi kota yang penuh drama ini, kini sahabat setia untuk ku terlelap sudah memberikan tempat untuk ku memejamkan mata dan angin segera merajutkan mimpi yang kuharap bukan tentang pertaruhan hidup yang menguras pikiranku. Sang malampun siap untuk berganti wajah dan aku pun mulai tenggelam dalam kegelapan malam.

KEKELIRUAN


Pagi ini akhir bulan yang ketiga tahun 2011 terasa aga aneh, terbangun jam 4.21 pagi adalah sebuah kekeliruan kebiasaan aku bangun, awal yang sempurna pikirku, saat ku kumpulkan tenaga dan mencoba menghilangkan keanehan ini aku merasa aga melankoli hari ini, aku coba hubungi orang – orang yang biasa membuatku merindukan kasih sayang sebelum ku beranjak pergi ke kota yang selalu membuatku terdiam.

Ada yang tak beres fikirku, aku mulai pulih tapi setelah melangkahkan kaki lebih jauh, aku merasa hari ini waktu bergerak sangat lambat,  rintikan air menerpa angin membuat waktu bergerak semakin lambat. Tusukan – tusukan angin yang melewati tulang mulai merusak kokohnya badan ini, dingin sangat pagi ini.

Mulai menggerakan roda kendaraan ini, aku masih merasa gerakan yang cepat hanya membuat waktu semakin malas tuk melangkah, menanjak melalui asap putih dingin yang menutupi jalan sampai turun merobek angin yang menghalangi, tetapi waktu tak mempercepat langkahnya, berhenti sejenak menanti waktu agar bergerak seirama, tapi itu tak membuat suatu perubahan yang di inginkan,kenapa hatiku bertambah melankoli ketika persimpangan demi persimpangan berlalu melaluiku.

Kumulai membicarakan apa yang ku suka tapi kali ini hal itu hanya membuatku bingung, bahasa yang kucerna semakin berlainan dari apa yang biasa ku dengar, ku memilih terlelap dalam himpitan dinginnya angin malam.

Terbangun dengan gerakan waktu yang tak jua mempunyai hasrat untuk melangkah lebih cepat… tak terasa hari mulai gelap, tapi mengapa aku lebih melankoli malam ini, lampu – lampu kerucut terlihat muram, kini waktu meninggalkanku tapi saat kukejar mengapa kini dia yang terdiam membiarkanku meninggalkannya… kotak besi mulai mengangkatku ke posisi yang di kehendaki, kaca kotak – kotak mebuat semua terasa luas, terduduk di tempat yang tak terfikir oleh kaki yang lain, saat tersadar ternyata waktu kembali menjauh dariku, semakin larut kegelapan ini tapi waktu enggan tuk mendekati kesuraman ini. kabut – kabut panas mulai membekap paru – paru yang semakin sulit bernafas, cahaya hijau-merah berputar – putar memutari wajah malam yang tak mau tersenyum melihat berbagai kelucuan yang di buat sesuatu di balik kabut dan cahaya itu.

Kini ku terduduk dengan waktu, dentuman – dentuman yang menggetarkan bangunan ini hanya membuat kita semakin melemas, gerakan kaki yang lain semakin cepat tapi ku merasa waktu telah terlelap dan memintaku tuk terdiam bersamanya. Kucoba berontak hingga ku membangunkan waktu untuk segera mengejar langkah kaki yang ku tinggalkan, ternyata keanehan yang kurasa tidak terjadi kepadaku tetapi pada dua pasang kaki di sekitar aku, waktu hanya tersenyum dan mengajakku untuk kembali sesegera mungkin menikmati sofa empuk atau menikmati lampu – lampu kerucut yang terlihat bahagia dengan kelesuanku, ku tak sanggup meneriakinya hanya mampu meihat mereka terbahak – bahak…

Sofa berwarna mencoba mengiburku tapi aku hanya mampu tersenyum kecut tanpa mampu berkata – kata. Kini waktu hilang entah kemana, berlari kencang sekali hingga langkahku tak sanggup mengimbanginya, kini ku tertinggal sendiri melihat semua begitu cepat melebihi detak jantung yang semakin lambat, hingga ku tertelan oleh malam yang tak tega melihatku tergolek lemas di pojokan bangunan yang lebih kecil.