Pagi ini akhir bulan yang ketiga tahun 2011 terasa aga aneh, terbangun jam 4.21 pagi adalah sebuah kekeliruan kebiasaan aku bangun, awal yang sempurna pikirku, saat ku kumpulkan tenaga dan mencoba menghilangkan keanehan ini aku merasa aga melankoli hari ini, aku coba hubungi orang – orang yang biasa membuatku merindukan kasih sayang sebelum ku beranjak pergi ke kota yang selalu membuatku terdiam.
Ada yang tak beres fikirku, aku mulai pulih tapi setelah melangkahkan kaki lebih jauh, aku merasa hari ini waktu bergerak sangat lambat, rintikan air menerpa angin membuat waktu bergerak semakin lambat. Tusukan – tusukan angin yang melewati tulang mulai merusak kokohnya badan ini, dingin sangat pagi ini.
Mulai menggerakan roda kendaraan ini, aku masih merasa gerakan yang cepat hanya membuat waktu semakin malas tuk melangkah, menanjak melalui asap putih dingin yang menutupi jalan sampai turun merobek angin yang menghalangi, tetapi waktu tak mempercepat langkahnya, berhenti sejenak menanti waktu agar bergerak seirama, tapi itu tak membuat suatu perubahan yang di inginkan,kenapa hatiku bertambah melankoli ketika persimpangan demi persimpangan berlalu melaluiku.
Kumulai membicarakan apa yang ku suka tapi kali ini hal itu hanya membuatku bingung, bahasa yang kucerna semakin berlainan dari apa yang biasa ku dengar, ku memilih terlelap dalam himpitan dinginnya angin malam.
Terbangun dengan gerakan waktu yang tak jua mempunyai hasrat untuk melangkah lebih cepat… tak terasa hari mulai gelap, tapi mengapa aku lebih melankoli malam ini, lampu – lampu kerucut terlihat muram, kini waktu meninggalkanku tapi saat kukejar mengapa kini dia yang terdiam membiarkanku meninggalkannya… kotak besi mulai mengangkatku ke posisi yang di kehendaki, kaca kotak – kotak mebuat semua terasa luas, terduduk di tempat yang tak terfikir oleh kaki yang lain, saat tersadar ternyata waktu kembali menjauh dariku, semakin larut kegelapan ini tapi waktu enggan tuk mendekati kesuraman ini. kabut – kabut panas mulai membekap paru – paru yang semakin sulit bernafas, cahaya hijau-merah berputar – putar memutari wajah malam yang tak mau tersenyum melihat berbagai kelucuan yang di buat sesuatu di balik kabut dan cahaya itu.
Kini ku terduduk dengan waktu, dentuman – dentuman yang menggetarkan bangunan ini hanya membuat kita semakin melemas, gerakan kaki yang lain semakin cepat tapi ku merasa waktu telah terlelap dan memintaku tuk terdiam bersamanya. Kucoba berontak hingga ku membangunkan waktu untuk segera mengejar langkah kaki yang ku tinggalkan, ternyata keanehan yang kurasa tidak terjadi kepadaku tetapi pada dua pasang kaki di sekitar aku, waktu hanya tersenyum dan mengajakku untuk kembali sesegera mungkin menikmati sofa empuk atau menikmati lampu – lampu kerucut yang terlihat bahagia dengan kelesuanku, ku tak sanggup meneriakinya hanya mampu meihat mereka terbahak – bahak…
Sofa berwarna mencoba mengiburku tapi aku hanya mampu tersenyum kecut tanpa mampu berkata – kata. Kini waktu hilang entah kemana, berlari kencang sekali hingga langkahku tak sanggup mengimbanginya, kini ku tertinggal sendiri melihat semua begitu cepat melebihi detak jantung yang semakin lambat, hingga ku tertelan oleh malam yang tak tega melihatku tergolek lemas di pojokan bangunan yang lebih kecil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar