Malam ini ku tak melihat bintang memperlihatkan batang
hidungnya, hanya rembulan yang tersipu malu dengan cahaya yang seolah enggan
tuk berbagi bersamaku. Habis sudah air di gelas yang tampak kusam tapi belum
ada sapaan hangat dari tempat ku memejamkan mata, kembali kulihat hamparan
langit hitam kini bulatan putih tertutup selimut abu – abu yang melintas di
hadapannya, ku biarkan mataku menari di hamparan langit ternyata kini ada satu
teman kecil menyapa sang penerang malam, bintang fikirku? Tapi ketika ku
tajamkan mataku ternyata ada sebuah mesin terbang yang melintas dengan titik –
titik merah yang berkedip genit.
Lelah batang leherku menenggak sinar rembulan, kuputuskan
untuk melangkahkan kakiku ke hamparan aspal yang panjang kini, ditemani oleh gedung
– gedung kayu yang hampir punah ku nikmati lalu lalang desiran mesin yang terdengar
jelas memecah keheningan, ku langgkahkan kaki menyusuri gedung – gedung kayu
ini hingga ku bertemu dengan tanaman – tanaman beton dengan guratan –guratan
warna – warni menghiasi batangnya.
Terdiam sejenak mengingat kepenatan ketika mentari membakar
kita tanpa bisa berlindung di bawah tanaman beton yang penuh sesak ini.
Berkecambuk pikiranku yang tak habis fikir dengan apa yang dilakukan oleh para
orang terhormat berbaju coklat di kota ini yang membiarkan kaum kapitalis
memporak – porandakan keindahan tempat kita berpijak ini.
Kotoran – kotoran penghasil pajak pun seolah aman tuk di
konsumsi kaum papa yang kembali bisu karena pergulatan hidup yang semakin
mencekik leher kehidupan keluarga, apa yang bisa kulakukan? Hanya bisa melihat
balita – balita bertarung dengan nafas yang telah diisi racun untuk membuat
pita suara mereka semakin menipis walau hanya untuk meminta haknya dari orang
yang merawat dan melairkan dia, apa bapak – bapak yang terhormat pernah
memikirkan ini? Kufikir tidak, mereka semakin sibuk membangun kerajaan dengan
terus menggali harta karun yang bukan miliknya, atau sibuk mencari selir –
selir baru untuk meringankan beban
mereka saat beranjak untuk menghabiskan isi dompet di depan patung –
patung yang melambaikan tangan seolah ingin mengajak semua orang berpesta di
balik kaca dan meja penyimpan uang yang semakin lihai untuk membuka mulut…
Kembali ku jejakan kaki menyusuri aspal menuju tempatku
berteduh dan melepas lelah, gonggongan anjing, teriakan jangkrik semakin
membuat emosiku memuncak memikirkan apa yang akan kau lakukan bapak – bapak
yang terhormat, “terhormat?” fuih…
malas ku mengucap kata terhormat untuk mereka yang bahkan sebagian dari orang –
orang rakus itu tertidur kaku di balik tiang – tiang besi yang menjulang kokoh
di ruangan yang menggigil dan sempit. Aku lebih bangga dengan para juru parkir
perempatan yang mendedikasikan hidup mereka untuk orang lain tak peduli
sentuhan air hujan atau gigitan sinar matahari menghujam ketangguhan tubuhnya.
Kufikir mereka lebih mengerti arti sebuah perjuangan hidup.
Ah lelah rasanya tubuhku mengelilingi kota yang penuh drama
ini, kini sahabat setia untuk ku terlelap sudah memberikan tempat untuk ku
memejamkan mata dan angin segera merajutkan mimpi yang kuharap bukan tentang
pertaruhan hidup yang menguras pikiranku. Sang malampun siap untuk berganti
wajah dan aku pun mulai tenggelam dalam kegelapan malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar